SEJARAH DESA BALAD KABUPATEN CIREBON




ASAL USUL SEJARAH DESA BALAD KABUPATEN CIREBON - Desa Balad luas wilayah 90.030 Ha, ketinggian tanah diatas permukaan laut ± 170 m, terdiri dataran rendah, suhu udara rata-rata     32ยบ C, jarak dari pusat pemerintahan Kecamatan 1 km, jarak dari ibu kota Kabupaten arah barat 7 km, jarak dari ibu kota Provinsi 125 km.

Pada tahun 2006 jumlah penduduk 4.416 orang, terdiri dari laki-laki 2.307 orang dan perempuan 2.307 orang. Jumlah Kepala Keluarga (KK) 1.015 KK, warga negara Indonesia (WNI) 4.416 orang (100 %), penganut agama Islam 4.416 orang (100 %). Sebagian besar mata pencaharian petani, adapula pedagang, tukang kayu dan pengrajin.

Asal mula balad (Desa Balad) berarti wadah yaitu tempat menampung, tempat berkumpul , sedangkan arti yang lain balad berasal dari kata bala yang berarti prajurit, pasukan perang kerajaan. Jadi Balad berasal dari kata Wadah/Wadia bala/Bala Tentara yang mengandung arti tempat penampungan atau berkumpulnya para wadia bala, bala tentara yakni prajurit perang kerajaan, tetapi ada lagi yang mengatakan nama balad diambil dari asal kata Balad, bahasa Arab yang berarti “Negara”, karena identik dengan tempat berkumpulnya para wali, para sesepuh, sultan dari kesultanan Cherbon serta tempat berkumpulnya para wadia bala gabungan (para prajurit perang kerajaan) Demak, Kunimgan dan Kerajaan Cherbon pada waktu terjadinya perang Raja Galuh dengan Kerajaan Cerbon.
Pada jaman dahulu Balad termasuk wilayah pasanggrahan Waru Gede, yaitu kekuasaan Nyai Mas Pakungwati.

Pada tahun 1470 M, Syarif Hidayatullah dari putra Sultan Hud (Syarif Abdullah) negri Mesir sampai di bumi Cherbon, selang satu tahun kedatangannya di bumi Cherbon, beliau menikah dengan Nyai Babadan putri Ki Gedeng Babadan penguasa sasal Galuh. Pada tahun 1475 M, beliau menikah dengan Nyai Kawung Nganten, adik dari Bupati Banten. Pada tahun 1478 M beliau Syarif Hidayatullah menikah dengan putri kesayangan Pangeran Cakra Buana yaitu Nyai Mas Pakungwati, Nyai Mas Pakungwati memiliki kepribadian terpuji, tutur kata, sikap prilaku dan perbuatannya menunjukkan keteladanan hidup bagi seorang wanita di usia dan pada zaman itu. Pada tahun 1481 M, Syarif Hidayatullah menikah dengan Ong Tian putri Kaisar Yu Wang Lo, berasal dari Cina, kemudian berganti nama Ratu Mas Rara Sumanding, tahun 1485 Syarif Hidayatullah menikah dengan Nyai Lara Bagdad, adik dari Syarif Abdurahman (Pangeran Panjunan) yang  masih ada garis keturunan dengan Syarif Abdullah, ayahanda Syarif Hidayatullah dan Syarif Hidayatullah menikah lagi dengan Nyai Tapasari, putri Ki Gedeng Tapasari pembesar Majapahit. Dari pernikahannya itu beliau dikaruniai dua orang anak yaitu Ratu Ayu dan Pangeran Muhammad Arifin (Pangeran Pasarean).

Bertitik tolak dari permasalahan rumah tangga inilah maka Nyai Mas Pakungwati memutuskan pergi meninggalkan dan keluar dari Keraton Cherbon menuju ke Banten untuk mencari ketenangan lahir dan bathin dengan membawa emban atau pawongan (pembantu) yang setia mendampingi dalam perjalanannya. Setelah beberapa lama di Banten beliau kembali ke Cherbon, namun sekembalinya dari Banten tidak langsung ke keraton Pakungwati tapi singgah di sebuah pedukuhan Duku Demit (Cidemit). Di Duku Demit saat itu ada seorang kyai yang sedang babad alas (notor hutan) yaitu Ki Maujud (Ki Gede Waru) dari Pajajaran Pulasara. Dengan kedatangan Nyi Mas Pakungwati bersama pawongannya di Duku Demit, Ki Maujud menyambutnya dengan suka hati. Walau demikian, Ki Maujud tidak ada terlintas di hati kecilpun untuk menggoda Nyai Mas Pakungwati yang cantik jelita dan berbudi luhur itu. Karena Ki Maujud tahu bahwa yang datang menemuinya itu adalah seorang Srikandi putri Pangeran Cakrabuana, permaisuri Kanjeng Sinuhun Cherbon.

Ketika sedang berada di Cidemit, pawongan Nyai Mas Pakungwati yang selalu setia itu sedang hamil tua akan melahirkan sambil mencari dukun bayi, maka beliau berjalanlah kearah selatan sampai di suatu tempat, pawongan tadi melahirkan bayi kembar dua. Beberapa hari tinggal di tempat itu sambil mengayun bayi dianatar pepohonan di sekitar tempat itu (50 m) kearah utara komplek Mak Baroh Syekh Umar Al Faqih disebut kebuyutan Kramaat Duku Malang (sekarang sudah dijadikan perumahan penduduk).

Dari kebuyutan Kramat Duku Malang berjalan kearah barat sambil mencari air Duku Malang, ada orang ditanya tidak mau menjawab, malah pada pergi menghindar, terus ke utara ada orang lalu bertanya dimana ada air atau sumber air ternyata orang tadi memberitahukan dan menghantarkan sampai ke sumber air (Sumur Balad sekarang), akhirnya Nyai Mas Pakungwati berucap, kelak di tempat ini akan ada 7 sumber mata air yang tidak akan mengalami kekeringan (yaitu di sekitar Desa Balad ada 7 (tujuh) sumber mata air sampai sekarang); dan perjalanan diteruskan kearah barat, utara sampai ke sebuah gubug panggung dan singgah untuk istirahat. Dengan kehadiran Nyai Mas Pakungwati, di tempat itu menjadi harum namanya (banyak orang membicarakannya), sehingga disebut orang manggung wangi (Girinata sekarang). Perjalanan diteruskan kearah timur sampai ke sungai, beliau dalam keadaan hati rundung (gundah gulana) disebut sungai Cirundung (Kepunduan sekarang) dan terus kembali ke pasanggrahan Waru Gede. Setelah Nyai Mas Pakungwati berada di pasanggrahan Waru Gede, Ki Maujud yang wujud badan/raga ada di pasanggrahan, tapi sukmanya berada di Cherbon menghatur kepada Kanjeng Sinuhun Syarif Hidayatullah, memberi kabar bahwa Nyai Mas Pakungwati “garwa dalem panjenenganipun” sekarang ada di Pesanggrahan Waru Gede (4 km arah selatan Palimanan).

Kanjeng Sinuhun mengajak Nyai Mas Pakungwati untuk kembali ke keraton Cherbon, Nyai Mas Pakungwati dengan halus menolak untuk diajak kembali pulang ke keraton Cherbon, Kanjeng Sinuhun bertanya kepada Nyai Mas Pakungwati “apa ada sesuatu hal yang kurang berkenan di hati Nyai Mas Pakungwati tinggal di keraton?”. Nyai Mas Pakungwati menjawab “tidak ada” Nyi Mas hanya ingin tinggal menetap di pasanggrahan Waru Gede ini karena di sini hati Nyi Mas merasa lebih senang, lebih tenang dan lebih aman dan tentram. Kemudian Kanjeng Sinuhun mengambil sebutir telor untuk di kandut di perut bagian pusar Nyi Mas, ternyata telor tersebut menjadi mateng (masak), bearti Nyi Mas sedang rundung panas hati kata sinuhun.

Karena Nyi Mas ingin menetap untuk tinggal di pasanggrahan Waru Gede, maka Kanjeng Sinuhun-pun mengijinkannya dan segala hal yang akan dibutuhkan oleh Nyi Mas beliau datangkan dari  keratin Cherbon seperti alat-alat, dayang-dayang keraton untuk merawat, membantu dan mengurusi Nyi Mas Oakungwati. Para Senopati dan Wadia Bala (bala tentara) secukupnya untuk mengawal dan menjaga keamanan, segala halang rintang para dedemit, bangsa siluman di berbagai tempat ditundukkan, di Kedoya , Cidemit dan lain tempat ditertib amankan.

Babad alas (penotoran hutan) yang telah dilakukan Ki Gede Waru Ki Maujud pada saat itu belumlah meluas, hanya sebatas kemampuan alat yang digunakan sehingga Nyi Mas Pakungwati berinisiatif membabat alas dengan cara membakar alas. Ternyata hasilnya tidak terkirakan dan tidak terbatas, hutan yang dibakar sampai ke Padabeunghar kecuali di gunung Lingga/Linggahi (di sana  ada orang Cina Cang Kong Wak = Cangkoak)
Wilayah pasanggrahan Waru Gede dari hasil bakar hutan dan penotoran hutan meliputi: pesanggrahan Waru, Kepunduan, Kedoya, Balad, Cangkoak, Dukupuntang, Cikalahang dan Padabeunghar.

Kala waktu perang Rajagaluh, Dukuh Demit atau Cidemit adalah tempat strategis tempat persinggahan/istirahat untuk menunaikan ibadah sholat, bahkan tempat berkumpulnya para wali (ket. K.H. Fuad Hasyim – Buntet). Para wadia bala, bala tentara gabungan baik wadia bala yang dipimpin oleh Pangeran Trenggono dari Demak, wadia bala dari Kuningan yang dipimpin Pangeran Arya Kemuning dan Adipati Kuningan maupun wadia bala dari Keraton Cherbon yang dipimpin oleh Mbah Kuwu Sangkan, Sunan Kalijaga, Pangeran Karang Kendal, Pangeran Salingsingan dan Nyi Mas Gandasari. Berkumpul di Cidemit, selanjtnya disebut Balad. Untuk mengatur siasat dan berbagai persiapan, perlengkapan dan penyerangan ke medan pertempuran menghadapi wadia bala Rajagaluh yang dipimpin para panglima kerajaan Patih Kiban, Arya Gempol, Arya Sutem, Sanghiyang Sereh, Ki Gede Leuwimunding dan Pangeran Purbaya (diakui nara sumber Bobos). Pasukan Galuh berangkat ke medan pertempuran yang telah ditentukan kerajaan Galuh yaitu Desa Cipanas (sekarang). Maka terjadilah pertempuran yang sengit antara wadia bala gabungan Demak, Kuningan, Cherbon. Pertempuran terus berlangsung dari Cipanas ke Bobos, Girinata, Gempol, Gunung Gundul,Palimanan. Akhir pertempuran, Raja galuh kalah perang dan digabungkan kepada Cherbon pada tahun 1528 M.

Duku Demit atau Cidemit menjadi wadah (wadia bala) yakni tempat penampungan, berkumpul para prajurit, bala tentara (prajurit perang kerajaan) dari berbagai daerah tempat untuk mengatur strategi penyerangan. Cidemit juga tempat pertemuan berkumpulnya para wali, sesepuh Cherbon untuk musyawarah mengenai penyiaran agama islam. Selanjutnya istilah wadia bala atau bala tentara menjadi Balad.

Balad bagian dari wilayah Nyi Mas Pakungwati tinggal dan menetap di pasanggrahan Waru Gede bersama para senopati dan pengawalnya sampai wafatnya dimakamkan di komplek Astana Waru termasuk makam anak kembar pembantunyaaa berada di sekitar pintu masuk, Lawang Gede (gapura).

Pasanggrahan Waru Gede diteruskan oleh Buyut Impon kemudian diserahkan kepada menantunya yaitu Buyut Syuaeb. Buyut Syuaeb berputra Syekh Abdurahim (Buyut Siti) dan Abi Dar (Buyut Dar). Buyut Impon tinggal di Depok berputra Ki Tabroni, Nyai Nur Mahali (istrinya Buyut Syuaeb), Nyai Syariah, Nyai Kodijah (istrinya Ki Rumli Balerante) dan Nyai Nurjali (di Balad). Setelah istrinya wafat Buyut Impon kembali ke Pasanggrahan Waru Gede sampai wafat dimakamkan di Priuk (100 M arah barat komplek astana Waru Nyai Mas Pakungwati.

GEGER BUMI CHERIBON
Sepeninggal Panembahan Ratu Akhir atau Panembahan Adiningkusuma disebut pula Panembahan Girilaya (1667 M). Kesultanan Cirebon dibagi menjadi tiga, yakni Kasepuhan dengan Sultan pertama Sultan Abul Makarim Samsudin (Pangeran Mertawijaya), Kanoman dengan Sultan pertama Sultan Abul Manakhir Badridin atau Sultan Gusti (Pangeran Kartawijaya) dan Kapanembahan dengan Panembahan pertama Panembahan Cerbon Abdul Karim Im Nasharudin yang dikenal dengan sebutan Pangeran Wengsakerta.

Sultan Kasepuhan I (Pangeran Mertawijaya) berputra dua orang yaitu Pangeran Dipati Anom Tajul Arifin Jamaludin dan Pangeran Arya Carbon, Pangeran Dipati Anom Tajul Arifin Jamaludin berputra Sultan Sepuh Moh. Asikin Jamaludin, berputra Sultan Sepuh Rajasena Moh. Jaenudin, berputra Sultan Sepuh Raja Moh. Sofiyudin matangaji.

Sultan Sepuh Raja Moh. Sofiyudin Matangaji diangkat menjadi Sultan Kasepuhan masih anak-anak umur 11 tahun, kemudian beliau belajar di pondok pesantren mendalami ilmu tasyawuf, setelah dewasa sekitar umur 20 tahun, beliau kembali ke kraton, di kraton sudah diangkat oleh colonial Belanda sebagai pengganti Sultan Sepuh dari pejabat keraton Kesepuhan yaitu Mangkubumi yang bernama Ki Muda Mas Muda.

Dengan wafatnya Sultan Sepuh I Pangeran Martawijaya (Pangeran Syamsudin) atas dasar pribawa kompeni Belanda, maka sebagai ganti adalah ditempati oleh adiknya yaitu Sultan Anom Kartawi Jaya (Badridin). Adapun Wangsa Kerta adik dari Sultan Anom Kartawi Jaya menduduki derajat tertinggi. Panembahan Cheribon Wangsakerta menduduki derajat kedua putra almarhum Sultan Sepuh Martawi Jaya yaitu Pangeran Dipati Anom Tajul Arifin Jamaludin dan Pangeran Aria Cheribon Sultan Sepuh Abi Mukaram Kaharudin bersama-sama menduduki derajat ketiga.

Pada tahun 1702 Sultan Anom Kartawijaya (Badridin) wafat, maka dua tahun berikutnya diadakan peraturan yang baru. Panembahan Cheribon Wangsa Kerta saudara bungsu dari dua orang Sultan yang meninggal itu dia menempati derajat tertinggi, derajat kedua ditempati oleh kedua orang putra Sultan Sepuh Marta Wijaya dan derajat ketiga ditempati putra Sultan Anom Kartawi Jaya (Sultan Badridin).

Pada tahun 1708, kompeni turut campur lagi untuk menempatkan perbedaan derajat dari ketiga cabang keluarga kerajaan. Setelah Panembahan Wangsa Kerta wafat tahun 1713 M, maka sekitar tahun 1715 – 1733 M berkali-kali diadakan penggeseran tinggi rendahnya seseorang dalam menduduki derajat kerajaan. Dari masalah derajat inilah maka dari cabang keluarga yang mana yang berhak menduduki derajat tertinggi (Sultan) selalu menimbulkan pertikaian yang berlarut-larut, terjadi perselisihan yang terus menerus tanpa henti-hentinya satu sama lain dan kejadian  ini mempercepat hancur dan hilangnya wibawa Keraton Cheribon.

Pada tahun 1792, umbgrove selaku Residen berpendapat bahwa dipandang perlu untuk mengurangi jumlah Pangeran dan Ratu serta mengubah fungsi mereka menjadi abdi masyarakat. Tahun 1808, Gubernur Jendral Belanda Deandels merombak susunan tata praja, yaitu:
1.    Pergantian Sultan Cheribon dicampur tangani oleh pemerintahan koloni Belanda
2.    Raja-raja akan digaji oleh Belanda dan tidak boleh mengambil pajak dari rakyat
3.    Adipati yang menguasai Kadipaten diganti menjadi Bupati yang menguasai Kabupaten dan digaji oleh Pemerintah Belanda
4.    Ki Gede atau Ki Ageng diganti menjadi kuwu dan diberi bengkok.

Pada akhir abad ke 18 terjadi berbagai peristiwa yaitu kelaparam, kerusakan, wabah dan emigrasi masal. Keadaan di Keraton Cheribon sangat kritis akibat konflik intern keluarga kraton situasi kelam terjadi pada tahun 1793, ketika putra Sultan Cheribon (awal) yang dibuang ke Maluku 1768 kembali dan melakukan perlawanan terhadap koloni Belanda. Sultan Anom yang sudah lanjut usia wafat tahun 1798 digantikan oleh bukan putra mahkota melainkan oleh orang lain. Hal ini menimbulkan kekacauan yang dilakukan orang-orang Bumi Cheribon. Pada tahun 1802 banyak orang-orang China terbunuh. Akibatnya putra mahkota Raja Kanoman ditangkap dan dibawa ke Batavia. Ribuan wong Bumi Cheribon mengadakan perlawanan di Jati Negara Batavia, dan diteruskan ke Karawang. Raja Kanoman dibuang ke Ambon.

Ketika Deandels menjadi gubernur jendral pada tahun 1808 raja Kanoman dikembalikan ke Cheribon atas desakan para ulama , Raja Kanoman diangkat menjadi Sultan Kacheribonan (akhir) gelar sultan sejumenenge selanjutnya keturunan setelahnya bergelar Raja Madenda.

Pada masa pemerintahan Inggris Letnan Gubernur TS. Raffles (1811 – 1816) mula-mula para sultan Cheribon dibiarkan statusnya sebagai pegawai, tapi tahun 1815 mereka dipensiunkan dengan menerima uang pensiun 8.000 rds. Sejak itu para sultan Cheribon hanya berstatus sebagai pemangku adat di Cherbon.

Pada tahun 1816 sampai dengan tahun 1818 M terjadi Geger Bumi Cheribon, Cheribon membara yaitu perlawanan masyarakat pribumi Cheribon terhadap kewenang-wenangan  penjajah kompeni Belanda. Dibawah pimpinan Pangeran Surya Negara, Pangeran Suryaja Negara (Pangeran Arya Janegara), Ki Bagus Rangin, Ki Bagus Serita, Ki Arsitem, yang dikenal sebagai perang Kedongdong (kompeni Belanda menyebutnya pemberontakan Cheribon). Para Ki Ageng, Ki Gede, para kuwu dan masyarakat hampuir di seluruh wilayah Bumi Cheribon turut berperan aktif membantu perjuangan melawan kompeni Belanda dan orang-orang keraton yang diangkat dan bergabung dengan kompeni Belanda baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.

Perang Kedongdong adalah cikal bakal meletusnya perang yang dipimpin Pangeran Diponegoro tahun 1825 sampai dengan tahun 1830 M.

Sultan Dawud Firdaus adalah saudara Sultan Dahlan (fersi Ki Munawir Pekandangan Indramayu). Pangeran Dawud Firdaus yang dikenal sebagai Ki Gedeng Balad adalah salah satu pemimpin di baris depan dalam perang Kedongdong (Keterangan almarhum sesepuh Tangkil). Ki Gedeng Balad, para Sultan, Pangeran, Kuwu-Kuwu dan para wadia bala perang Kedongdong terus dikejar-kejar oleh kompeni Belanda dan orang-orang dalam keraton yang bergabung dengan Belanda. Para pejuang pribumi Cheribon bersembunyi di berbagai tempat dan daerah, di Rajagaluh tepatnya di Lengkong, Gunung Pekuon dan Cicebak. Para wadia bala dari Majalengka, Dermayu menggabung dengan pribumi Cherbon mengambil tempat berkumpul di Balad, karena di Balad tempat strategis untuk mengatur siasat peperangan sampai meletusnya perang Diponegoro (keterangan Tokoh Masyarakat Balad, H. A. Busyaeri).

Pada tahun 1816 sampai dengan 1818 M terjadi geger bumi wong Cheribon, Cheribon membara yaitu perlawanan masyarakat pribumi terhadap kesewenang-wenangan penjajah kompeni Belanda. Dibawah pimpinan Pangeran Surya Negara, Pangeran Aryajanegara, Ki Bagus Rangin, Ki Bagus Serita, Ki Arsitem, yang dikenal sebagai perang Kedongdong (kompeni Belanda menyebutnya pemberontakan Cheribon). Para Ki Ageng, Ki Gede para Kuwu dan masyarakat haampir di seluruh wilayah bumi Cheribon turut perperan aktif membantu perjuangan  melawan kompeni Belanda dan Orang-orang keraton yang diangkat dan bergabung dengan kompeni Belanda baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi.

Perang Kedongdong adalah cikal bakal meletusnya perang yang dipimpin Pangeran Diponegoro tahun 18254 sampai dengan tahun 1830 M

Sultan Dawud Firdaus adalah saudara Sultan Dahlan (versi Ki Munawir Pekandangan Indramayu). Pangeran Dawud Firdaus yang dikenal sebagai Ki Gedeng Balad adalah salah satu pemimpin di baris depan dalam perang Kedongdong (keterangan almarhum sesepuh tangkil). Ki Gedeng Balad, Para Sultan, Pangeran, kuwu-kuwu dan para wadia bala perang Kedongdong terus dikejar-kejar oleh kompeni Belnda dan orang-orang dalam keraton yang bergabung dengan Belanda. Para pejuang pribumi Cheribo bersembunyi di berbagai tempat dan daerah, di Rajagaluh tepatnya di Lengkong, Gunung Pekuon dan Cicebak. Para wadia bala dari Majalengka, Dermayu menggabung dengan pribumi Cheribon mengambil tempat berkumpul di Balad, karena Balad tempat strategis untuk mengatur siasat peperangan sampai meletusnya perang Pangeran Diponegoro (keterangan Tokoh masyarakat Balad H.A Busyaeri).

Untuk menghindari pengejaran dan pencaharian dari kompeni Belanda dan para pejabat keraton antek-antek Belanda, maka nama-nama gelar kebangsawanan seperti Sultan, Pangeran, Raden dan lainnya menjadi nama-nama masyarakat biasa seperti Buyut, Rama sepuh, Kanjeng Rama, Gustu, Bagus, Bagus Rangin, Bagus Serit, Ki Arsitem, Ki Karsiem, Ki Kulur, Ki Kinten, Ki Jabin dan lain-lain berbaur dengan masyarakat dan menjadi masyarakat biasa tanpa menyandang gelar kebangsawanannya.

Sultan Daud Frirdaus adalah keturunan Sultan Cherbon menantu Syeh Abdurahim (Buyut Siti) dukuh pesantren Balad. Beliau diangkat menjadi sesepuh dan disebut Ki Gedeng Balad. Dalam perang Kedongdong beliau gugur sebagai syuhada bersama para pejuang lainnya, dan dikebumikan di Balad.

Terejadinya Cherbon membara dengan sebutan lain “Perang Kedongdong”, dilatar belakangi :
1.    Ketidakberdayaan sultan-sultan Cheribon atas pribawa kompeni Belanda yang selalu turut campur dalam masalah-masalah intern keluarga keraton terutama dalam pergantian dan pengangkatan tinggi rendahnya derajat gelar sultan/putra mahkota sebagai pengganti ayahandanya.
2.    sebaqgai bentuk perlawanan ketidakadilan para sultan Cheribon atas penggeseran dan pengangkatan oleh Pemerintah Belanda terhadap sultan atau putra mahkota yang tidak diberi hak sebagai pengganti sultan dari ayahandanya bahkan mereka diperlakukan tidak adil, dirampas hak-haknya sebagai sultan/putra mahkota, ada yang dibuang ke Maluku, Ambon, bahkan berusaha untuk dibunuh.
3.    Akibat pengangkatan yang dilakukan pemerintah Kolonial Belanda terhadap para pejabat keraton Cheribon sebagai sultan yang bukan haknya, maka karena peristiwa ini 3.500 Ha tanah keraton Cheribon dijabel/dirampas oleh Pemerintah Belanda (keterangan PR Keprabonan-Herman) karena mereka meminta bantuan kekuatan dan perlindungan kepada kompeni Belanda.
4.    Kekuasaan atau ruang gerak sultan-sultan Cheribon dipersempit.
5.    Adanya upeti/pancen yang dibebankan kepada rakyat dan adanya rodi (kerja paksa).
6.    Kewenang-wenangan pihak TiongHoa/orang-orang Cina yang statusnya naik jadi kelas 1 yang dipercaya oleh Kompeni Belanda untuk memungut pajak kepada rakyat bersama kompeni/Pemerintah Belanda.

Geger Bumi Cheribon diawali dari Jatinegara Batavia (Jakarta sekarang), Karawang, Eretan, Kandanhaur dengan pembakaran tempat atau gudang-gudang Belanda di berbagai daerah seperti: Gudang Garam, Gudang Kopi, di hutan Tomo Sumedang dan di tempat-tempat lainnya.
Nama-nama tokoh yang terlibat dalam Perang Kedongdong adalahPangeran Daud Firdaus, Kanjeng Rama, Rama Gusti, Rama Sepuh, Buyut Kinten, Ronodiwongso, Ki Kulur, Kuwu Sarman, di Buntet dipimpin oleh Kyai Koyim dan Pangeran Raja Kanoman, Ki Ardi Sela (Pangeran Ardi Sela Tuk Muara Bengkeng).

Adat istiadat dan tradisi Islami
-    Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Di setiap blok, masjid desa maupun disetiap mushola bahkan di warga masyarakat.
-    Memperingati Isro’mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan mengadakan tablig akbar.
-    Memperingati malam nisfusa’ban setiap tanggal 15 di bulan sa’ban
-    Tahlilan/tahlil akbar, jam’iyah, salawat,jamiyah hadad, jamiyah yasin dan jamiyah waki’ah pada tiap-tap malam tertentu dalam setiap minggu.
-    Memitu
-    Melaksanakan acara tahlil 7 hari, 40 hari, 100 hari dan nyewu (1000 hari) bagi keluarga yang kematian.
-    Tahlilan pada malam hari bagi orang yang akan buka “teki”, akan membangun rumah pagi harinya.
-    Walimatul hitan, walimatul arusy dan lain-lain
-    Sedekah makaman setahun sekali di tiap komplek makam.

Nama-nama tempat peninggalan karuhun yang perlu dijaga kelestriannya
1.    Komplek Makam Pangeran Daud Firdaus bersama para kerabat keluarga keraton Cheribon lainnya di Blok Pesantren
2.    Komplek Makam Pangeran Fatma Negara, Pangeran Kresna, Pangeran Surya Negara dan para Pangeran lainnya di Blok Pesantren
3.    Sumur Balad di Blok Pesantren
4.    Komplek Makam Sultan Mulyana, Raden Papak, Pangeran Arya, Pangeran Surya, Pangeran Jaya Kusuma dan para Pangeran yang belum diketahui nama-namanya karena telah dibongkar dijadikan pesawahan di Blok Cidemit.
5.    Sumur Jaya kejayaan di Blok Cidemit
6.    Tapakan Ki Gedeng/Ki Ageng Raga Payon di Blok Cidemit
7.    Watu Celek peninggalan kuno di Blok Cidemit
8.    Komplek Buyut Bandung, Pangeran Suta, Buyut Maryam, para sesepuh dari Trusmi di Blok Cidemit
9.    Sumur Wungu, Sumur Salam, Sumur Glompok di Blok Cidemit
10.    Gua Lingsang di Blok Cidemit
11.    Komplek Makam (tapakan) Pangeran Arya Kemuning dan makam-makam panjang di Blok Jamaika
12.    Sumur Kemulyan di Blok Jamaika
13.    Makam Nyai Syarifah di Blok Jamaika
14.    Komplek Buyut Besus dan makam keluarga besar karuhun dari Waru di Blok Pete
15.    Komplek Makam Wali Pancing, Pangeran Kusuma Hasan dan komplek makam keluarga besar Pangeran Harunawijaya, Pangeran Rogawa di Blok Desa
16.    Sumur Kemulyan di Blok Desa
17.    Komplek Makam Buyut Jayem di Blok Agung

Nama-nama Ki Ageng atau Ki Gede
1.    Ki Ageng/Ki Gedeng Raga Payon
2.    Ki Gedeng/Ki Gede Balad

Nama-nama-kuwu yang diketahui diantaranya
1.    Rajab    : 1860 – 1890
2.    Sinta    : 1910 – 1920
3.    Karib/Haji Sidik    : 1920 – 1930
4.    Sanjum    : 1930 – 1945
5.    Jamad (H Abdur Rasid)    : 1945 – 1960
6.    Haji Abdul Hadi     : 1960 – 1980
7.    R. Parida Tajudin    : 1980 – 1990
8.    Haji Abdul Wahab    : 1990 –  1998
9.    Abdul Malik (Pjs)    : 1998 – 2001
10.    Haji Abdul Wahab    : 2001 – sekarang

Silahkan Berbagi Share Info Ini ke Teman anda Melalui Facebook,Twitter dan Google plus di bawah ini ::




Cara Pasang Kotak Komentar Facebook di Blogspot