SEJARAH ASAL USUL DESA PICUNG PUGUR

SEJARAH ASAL USUL DESA PICUNG PUGUR KABUPATEN CIREBON . Kuta Caruban (Cirebon) mengadakan sayembara adu kedigjayaan (kesaktian) untuk bisa mempersunting seorang putri cantik nan rupawan. Konon kecantikan Sang Putri bagaikan bintang dalam kegelapan malam. Putri tersebut tiada lain bernama “Bentang Ayunan”

Sayembara tersebut diikuti semua kalangan dari jawara bahkan sampai pada pinangiran, yang akhirnya tersisa dua ksatria yakni “Jaka Sundang” dan lawan tandingnya bernama “Kuda Pangrawit”.

Pertarungan antara Jaka Sundang dan Kuda Pangerawit sangat seru dan berimbang, sehingga makan waktu yang cukup lama, bahkan selalu berpindah tempat dari satu wilayah ke wilayah lainnya mengantarkan perang tanding antara kedua tokoh tersebut ke satuy dataran yang banyak ditumbuhi pohon picung dan banyak pula mata airnya. Bahkan ditempat inilah, kedua tokoh ini sempat beristirahat dan memakan buah picung untuk menghilangkan rasa lapar. Sebelum meneruskan perang tanding dengan segala daya dan kemampuan yang dimiliki masing-masing, baik itu Jaka Sundang maupun Kuda Pangrawit yang akan menentukan siapa yang pantas mempersunting putri yang bernama “Bentang Ayunan”. Pada suatu kesempatan, Jaka Sundsang melemparkan tubuh Kuda Pangrawit ke arah pohon picung yang buahnya sangat lebat sehingga mengakibatkan pohon picung itu tumbang dan diikuti “bergugurannya buah picung”  tersebut.

Sadar dirinya (Kuda Pangrawit) bisa dilemparkan ke arah pohon picung yang buahnya telah ia makan, dengan kebesaran hati dan jiwa kesatria Kuda Pangrawit mengakui kekalahan dan kesalah pahaman antara dirinya dengan Jaka Sundang.

Saebelum Jaka Sundang menuju Kuta Caruban (Cirebon) untuk mempersunting Bentang Ayunan, beliau memberi nama dataran yang menjadi tempat perang tanding dengan nama “Picung Pugur”. (Picung berarti pohon, Pugur berarti tumbang/berguguran).

Kemenangan Jaka Sundang disambut gembira oleh pembesar Kuta Caruban. Diadakannya jamuan dalam acara pernikahan antara Jaka Sundang dan Bentang Ayunan. Dalam acara tersebut pembesar Kuta Caruban menampilkan kesenian wayang yang dihadiri para Ki Gedeng dan Pinangeran dari seluruh wilayah Kuta Caruban saat itu.
Pada saat munculnya tokoh Togog dalam ceritera wayang tersebut, sontak para tamu undangan yang hadir tertawa terbahak-bahak, tanpa sadar akan adanya Jaka Sundang. Melihat hal tersebut Jaka Sundang merasa dirinya ditertawakan, beliau bergegas kembali ke pedukuhan yang telah diberi nama Pedukuhan “Picung Pugur” dengan semboyan (membawa serta) putri Bentang Ayunan.

Setibanya beliau di tempat yang dituju, Jaka Sundang mengangkat/mengucapkan sumpah yang intinya melarang anak cucunya dan masyarakat Pedukuhan Picung Pugur menampilkan Kesenian Wayang di daerahnya, sebab Jaka Sundang tidak mau ditertawakan seperti kejadian di Kuta Caruban

A.    Peranan Jaka Sundang terhadap nama petilasan (tempat) di Pedukuhan Picung Pugur dan makna yang terkandung didalamnya.
1.    Ketika Jaka Sundang mengemban (menggendong) Bentang Ayunan sampai ke sebuah mata air yang akhirnya tempat itu dikenal dengan nama “Cibangban”. Hal ini sangat mencerminkan betapa melindunginya dan menghargainya, tokoh Jaka Sundang pada seorang wanita.
2.    “Palasah Nunggal” , tempat ini adalah tempat beliau bertapa mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa, dalam arti beliau selalu mengingat “Falsafah Tunggal” (palasah nunggal, diartyikan Falsafah Tunggal) menunjukkan betapa beliau sangat mempunyai pandangan hidup kehidupan, khususnya karena adanya sesuatu yang tunggal yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
3.    Di Hulu Dayeuh (Pusat Desa) ada petilasan berupa Makam Togog (Ki Buyut Busong), beliau mengingatkan para pemimpin Pedukuhan Picung Pugur hendaklah mengambil Falsafah Togog (Ki Buyut Busong), yaitu sebagai pengayom masyarakat.

B.    Peranan Jaka Sundang dalam hal Kebudayaan di Pedukuhan Picung Pugur
1.    Masih berkisar di Hulu Dayeuh (pusat desa/pedukuhan) tidak boleh ada “Bedug”. Dalam arti hakekat “Bedug” adalah suara jantung manusia yang semakin keras suaranya menandakan nafsu amarah yang meliputi tahta, harta, dan wanita.
    Karena melarang adanya bedug, beliau memunculkan penggantinya yaitu “goong” (gong) dengan adanya figur “Ki “Buyut Goong” bunmyi goong secara lahiriah sendiri adalah “gung-gung-gung-ger” (gung berarti Agung dan ger berarti angger/tetap) yang secara hakekat diartikan menyembah “Yang Agung” (Tuhan Yang Maha Esa) harus tetap (angger).
2.    Satu hal lagi terkait sumpah Jaka Sundang adalah melarang anak cucunya dan masyarakat Pedukuhan (desa) Picung Pugur menampilkan kesenian wayang terutama tokoh “Rahwana”. Beliau mengingatkan “Rahwana” adalah simbol “amarah”, raja durjana yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, baik takhta, harta dan wanita yang semuanya hal semu di dalam kehidupan dunia.
Alangkah besarnya peranan Jaka Sundang dalam hal pembinaan akhlak masyarakat Pedukuhan (Desa) Picung Pugur, terbukti sampai masa sekarang masyarakat Desa Picung Pugur masih menghormati budaya leluhurnya dan sudah mengakar dalam diri masyarakat Desa Picung Pugur.

Letak Geografis Desa Picung Pugur :
-     Sebelah utara, Desa Picung Pugur berbatasan dengan Desa Leuwidingding
-    Sebelah barat, Desa Picung Pugur berbatasan dengan Desa Asem
-    Sebelah selatan, Desa Picung Pugur berbatasan dengan Desa Wilulang
-    Sebelah timur, Desa Picung Pugur berbatasan dengan Desa Karangsuwung

Sebagian besar masyarakat Picung Pugur adalah petani dan pedagang, hal ini mendukung terlahirnya kesenian yaitu Reog. Adapun adat desa di Picung Pugur adalah Mapag Sri (sebagai wujud permohonan manusia pada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan rahmat, barokah dan keselamatan menjelang panen padi) yang keberadaannya sdangat unik bila dihidupkan kembali, sebab ada sebuah pepatah yang mengatakan “Barang siapa yang meninggalkan dan melupakan seni budaya dan para leluhurnya, maka terimalah kehancuran daerah tersebut”.

Daftar Nama-nama Kepala Desa Picung Pugur Kec. Lemahabang Kabupaten Cirebon yang diketahui diantaranya:

1.    Saya    :
2.    Runda    :
3.    Kastam    :
4.    Suta Arja    : 1935 – 1937
5.    Durahim    : 1937 – 1949
6.    Sukra    : 1950 – 1953
7.    Dirja    : 1953 – 1967
8.    Johari    : 1967 – 1968
9.    Jaya    : 1968 – 1984
10.    Endo Iskandar (Pjs)    : 1984 –
11.    Eka Yonanda AR    : 1984 – 1988
12.    Achmad Maksudi (Pjs)    : 1988 – 1994
13.    Sukarta (Pjs)    : 1994
14.    Achmad Maksudi     : 1994 – 2003
15.    Sukarta (Pjs)    : 2003
16.    Ibu Komalasari    : 2003 – sekarang

Untuk saat ini (periode sekarang) tampuk pimpinan Desa Picung Pugur dijabat oleh Ibu Komalasari yang dipilih langsung oleh Masyarakat Desa Picung Pugur adalah bagian dari wilayah Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon.   

Baca Selengkapnya »

SEJARAH ASAL USUL DESA PANGGANGSARI

SEJARAH ASAL USUL DESA DESA PANGGANGSARI .Pada jaman dulu di negeri Cempa (wilayah Kamboja) seorang pemuda tampan yang bernama Pangeran Cempa sedang gundah gulana. Beliau belum tahu siapa gerangan ayahandanya. Dalam suatu saat, Pangeran Cempa bertemu dengan seorang yang bernama Jati Suwara. Kemudian terjadilah percakapan sampai akhirnya Pangeran Cempa menanyakan ayahandanya kepada Jati Suwara. “Pangeran, sesungguhnya ayahandamu adalah seorang manusia sakti yang berasal dari tanah Jawa yang bernama Pangeran Walangsungsang bergelar Pangeran Cakrabuana, alias Mbah Kuwu Cerbon, putera maharaja Prabu Siliwangi…”, demikian Jati Suwara menjelaskan. Selanjutnya atas petunjuk Jati Suwara berangkatlah Pangeran Cempa menuju tanah Jawa dengan menggunakan perahu layar.

Perjalanan yang cukup melelahkan itu akhirnya sampai di sebuah muara yang bernama muara Sanggabraja (sekarang Cisanggarung), dan berlabuh di Pulau Madengda (sekarang Losari). Di Pulau Madengda beliau bertemu dengan Pangeran Silih Asih yang sedang melakukan perjalanan ke Cirebon. Seolah mendapat firasat, Pangeran Cempa merasakan dirinya berhadapan dengan seorang sakti yang mampu menunjukkan dimana gerangan ayahanda Pangeran Walangsungsang. Oleh Pangeran Silih Asih dijelaskan bahwa untuk mengetahui letak tanah Cirebon hendaknya melakukan dulu sebuah ritual yaitu bertapa selama empat puluh hari diatas sebuah bara api sambil duduk bersila. Cara tapa seperti itu disebut tapa manggang, layaknya memanggang ikan. Karena keinginan yang begitu kuat untuk bertemu dengan ayahanda Walangsungsang, akhirnya Pangeran Cempa menyanggupi persyaratan tersebut. Sementara itu nampak dari kejauhan Pangeran Silih Asih terkagum-kagum mengamati proses ritual itu sampai selesai. Dengan perasaan kaget bercampur kagum akan kesaktian anak muda itu yang mampu bertahan duduk diatas bara api tanpa merasakan rasa panas.

Sesuai dengan perjanjian, kemudian Pangeran Cempa diantar ke tanah Cirebon. Kemudian tempat Pangeran Cempa bertapa disebut tanah panggang. Kini menjadi nama Desa Panggangsari, karena saat Pangeran Cempa melakukan tapa manggang diatas bara api telah memperoleh sari kehidupan, tidak merasakan panasnya bara api.

Di Cirebon Kanjeng Sunan Gunung Jati sedang bingung memikirkan jubah milik rama uwa Pangeran Walangsungsang yang bergelar Pangeran Cakrabuana, hilang entah kemana. Kesedihan rama uwanya tentu menjadi beban tersendiri bagi diri Kanjeng Sunan, sebab beliau tidak ingin keadaan ini akan menjadi petaka bagi tanah Cirebon.

Sesaat beliau merenung, dan atas kehendak Yang Maha Kuasa tiba-tiba Sunan Jati ujudnya berubah menjadi seorang kakek-kakek yang menamakan dirinya Raga Wiganti. Rasa tanggung jawab terhadap tanah Jawa diwujudkan dengan melakukan pencarian terhadap jubah milik rama uwanya. Di perjalanan tiba-tiba beliau bertemu dengan dua orang pemuda yaitu Pangeran Cempa dan Pangeran Silih Asih yang akan menemui Pangeran Walangsungsang. Setelah mengetahui siapa dan apa maksud dari kedua orang itu, Raga Wiganti menjelaskan bahwa kalau Pangeran Walangsungsang yang dimaksud sedang kehilangan jubahnya. Jika pangeran ingin mengabdi dan berguru agama Islam padanya, pangeran harus mencari jubah tersebut. Raga Wiganti memberi petunjuk melalui mimpinya bahwa yang mencuri selendang adalah seseorang yang sedang semedi di Gunung Ciremai.

Pangeran Cempa menyanggupi persyaratan yang diajukan oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati  yang berujud Raga Wiganti, kemudian beliau menuju Gunung Ciremai, sementara Raga Wiganti kembali ke keraton di Cirebon dan Pangeran Silih Asih kembali ke Losari.

Adapun pertapa yang berada di Gunung Ciremai tersebut bernama Pangeran Pegagan. Sudah sekian lama beliau melakukan semedi hingga tanpa disadari dihadapannya sudah berdiri Pangeran Cempa yang siap-siap melakukan serangan. Sadar dalam bahaya Pangeran Pegagan bangkit dari tapanya. Setelah perang mulut antar keduanya terjadilah pertempuran yang hebat. Keduanya adalah pemuda-pemuda sakti yang sulit dicari tandingannya. Beberapa kali Pangeran Pegagan terdesak hingga akhirnya Pangeran Cempa mampu mengunggulinya pada jurus pamungkasnya.

Setelah takluk kepada Pangeran Cempa, Pangeran Pegagan mengajaknya untuk menemui ibunya yang bernama Nyi Dewi Barapanas dan memberi tahu  bahwa Pangeran Cempa adalah puteranya Pangeran Cakrabuana, dan berniat untuk mengambil selendang milik Pangeran Cakrabuana yang telah dicuri oleh Pangeran Pegagan. Betapa kagetnya Nyi Dewi Barapanas mengetahui siapa sesungguhnyaa yang ada dihadapannya, kemudian Nyi Dewi Barapanas mengajukan permohonan kepada Pangeran Cempa, andai sorban Pangeran Walangsungsang dikembalikan melalui puteranya, Pangeran Cempa agar menerima Pangeran Pegagan sebagai muridnya. Pangeran Cempa mengabulkannya, selanjutnya keduanya berangkat diikuti isak tangis Nyi Dewi Barapanas yang ditinggal oleh anaknya Pangeran Pegagan.

Di Keraton Cirebon, Pangeran Cakrabuana begitu kaget dan bahagia mendapatkan sorbannyaa kembali lagi kepangkuannya. Selanjutnya setelah dijelaskan oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati bahwa yang mendapatkan kembali jubahnya adalah puteranya, akhirnya mereka berangkulan tanda bahagia. Dan Pangeran Pegagan diterimaa sebagai putera impian dari Nyi Dewi Barapanas.

Pada pemerintahan sekarang Desa Panggangsari berada di Kecamatan Losari Kabupaten Cirebon. Adapun nama-nama kuwu Panggangsari yang diketahui adalah :
1.    Chaerudin    : 1984 – 1994
2.    Suwarno    : 1994 – 2002
3.    H. tajwid    : 2002 – sekarang

Baca Selengkapnya »

SEJARAH ASAL USUL DESA PALIMANAN

SEJARAH ASAL USUL DESA PALIMANAN KABUPATEN CIREBON Info sebelumnya kami telah berbagi Asal Usul Sejarah Berdirinya Desa Lemahabang dan untuk kali ini membahasa Asal Usul Desa Palimanan . Desa Palimanan terletak di pusat kota Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon, luasnya 26.764 Ha, terdiri dari tanah bukit dan tanah datar di kaki gunung Ciremai.

Pada tahun 2006, penduduknya berjumlaah 5.586 orang terdiri daari laki-laki 2.842 orang dan perempuan 2.861 orang, mata pencaharian sebagian besar penduduknya pedagang, ada pula yang petani dan pegawai negeri.

Waktu awal mula tumbuh dan berkembangnya ajaran Islam dibawah kekuasaan Kerajaan Islam Cirebon yang dipimpin Kanjeng Sinuhun Syekh Syarif Hidayatullah dan Rama uwaknya Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Cirebon), beliau mengutus seorang kesatria pilih tanding untuk menggempur dan menundukkan orang-orang yang masih kafir dan memusuhi Islam, maka seorang kesatria tadi merubah wujud menjadi Nyai Mas Gandasari, Nyai artinya perempuan, Mas artinya seorang laki-laki, gandasari artinya memiliki dua kemaluan, perempuan dan laki-laki. Nyai Mas Gandasari sebelum maju ke medan pertempuran terlebih dahulu menitipkan pelanangannya atau PELI (penis) kepada seorang Ki Gede yang juga sakti mandra guna (raga poyan). Singkat ceritera usai pertempuran Nyai Mas Gandasari bermaksud hendak mengambil PELI yang dititipkan kepada Ki Gede tadi, namun apa yang terjadi, begitu kecewa karena PELI yang dititipkan tadi tanpa disengaja “keeleg” / Bahasa Cirebon (termakan) dan masuk kedalam perut, disebabkanPELI tadi ditelan ke dalam mulut Ki Gede, maka berkatalah Nyai Mas Gandasari kepada Ki Gede : “Mangan PELI kaya buta”/Cirebon (makan PELI layaknya seorang raksasa), seketika itu Ki Gede berubah ujud menjadi seorang raksasa. Dari kejadian itulah maka daerah tersebut dinamakan Palimanan, yang kemudian menjadi Desa Palimanan.

Pada pertengahan abad ke 15, sekitar tahun 1450 M, wilayah pedukuhan Cheribon masih dikuasai Prabu Cakraningrat Kerajaan Galuh yang berkedudukan di Rajagaluh bawahan kerajaan Pajajaran. Pada saat itu penguasa Kerajaan Galuh Pakuan untuk wilayah Cheribon  dipercayakan kepada Panglima Perangnya yang bernama Ki Patih Arya Kiban atau Ki Gede Palimanan dibantu oleh Arya Gempol, Arya Sutem, Arya Igel dan yang lainnya. Pusat perwakilan kerajaan berkedudukan di Palimanan sebagai pintu gerbang pertahanan dan untuk memantau/mengawasi situasi Kerajaan Islam Cirebon dibawah pimpinan Syekh Syarif Hidayatullah.

Tempat Situs bersejarah peninggalan leluhur

Situs dan Alamat Obyek Wisata Banyu Panas. Gua Dalem, Gua Topong, Gua Macan, Gua Lawang Sanga, Gunung Jarom, Gunung Kromong dan Obyek Wisata Banyu Panas serta masih ada yang lainnya. Situs-situs tersebut sudah punah dan tinggal namanya saja karena sudah dimiliki oleh PT. Indocement atau tanah tersebut dikuasai oleh Badan Milik Negara (BUMN) dan tidak bisa diganggu gugat yang merupakan asset negara. Situs yang masih ada yaitu Gua Dalem, disamping Gua Dalem terdapat makam Kasan-Kusen yang berasal dari Mesir. Situs tersebut ada di wilayah Desa Palimanan Barat masuk Kecamatan Gempol.

Pada tahun 1982, diadakan pertemuan/musyawarah antara tokoh masyarakat dengan aparat pemerintah Desa Palimanan Barat. Dari hasil mesyawarah itu disepakati bahwa wilayah Desa Palimanan dibagi menjadi dua desa yaitu Desa Palimanan Timur dan Desa Palimanan Barat yang keduanya berada di Kecamatan Palimanan. Pepatah orang Palimanan “Sugi beli rerawat, melarat beli gegulat”.

Sekarang Desa Palimana Timur masuk wilayah Kecamatan, sedangkan Desa Palimanan Barat masuk wilayah Kecamatan Gempol. Itu terjadi ketika tahun 2005.

Berikut batas-batas wilayah Desa Palimanan Timur :
1.    Sebelah barat berbatasan dengan Desa Palimanan Barat dan Desa Gempol.
2.    Sebelah timur berbatasan dengan Desa Klangenan (Kecamatan Klangenan).
3.    Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Semplo.
4.    Sebelah utara berbatsan dengan Desa Pegagan.

sedangkan batas-batas wilayah Desa Palimanan Barat adalah :
1.    Sebelah  timur berbatasan dengan Desa Gempol
2.    Sebelah barat berbatasan dengan Desa Ciwaringin.
3.    Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Cikeusal
4.    Sebelah utara berbatsan dengan Desa Kedungbunder

Nama-nama Kepala Desa Palimanan Timur yang diketahui diantaranya :
1.    Mustaram    : 1951 – 1962
2.    Kosim    : 1963 – 1972
3.    Gulemi (Pjs)    : 1971 – 1973
4.    Rodi Akmad    : 1973 – 1981
5.    Bengkok     : 1981 – 1998
6.    Agus Irianto    : 1998 – Sekarang

Nama-nama Kepala Desa Palimanan Barat yang diketahui diantaranya :
1.    Nurudin    : 1982 – 2000
2.    Nurudin    : 2000 – sekarang

Baca Selengkapnya »

SEJARAH ASAL USUL DESA LEMAHABANG

SEJARAH ASAL USUL DESA LEMAHABANG KABUPATEN CIREBON mengenai perjalanan sejarah asal usul berdirinya desa/kelurahan Lemahabang ini dimulai pada kisaran abad 15 (Pustaka Kerajaan Cirebon : PH Yusuf Dendabrata), terjadilah perintisan pedukuhan Lemahabang. Pedukuhan Lemahabang merupakan pinggiran Desa Caruban yang keberadaannya dirintis oleh Datuk Abdul Djalil (Syaikh Lemahabang / Syaikh Siti Jenar).

Asal muasal berdirinya Desa Lemahabang Pedukuhan/ Desa Lemahabang merupakan hutan lebat dan hamparan rumput alang-alang yang hanya dihuni hewan melata dan berbagai jenis serangga ganas serta jenis hewan lainnya. Jika musim kemarau dating, sejauh mata memandang hamparan rumput alang-alang berwarna coklat tergelar, acap kali terbakar dan menyisakan abu yang menghitam, tapi jika musim penghujan tiba hamparan rumput tersebut berubah menjadi rawa-rawa tempat hewan liar membangun sarang.

Kedatangan dan usaha Syaikh Siti Jenar mengubah segalanya menjadi sebuah pedukuhan, dengan hanya membangun Tajug Agung yang sebelah kirinya dibangun kediaman beliau dan jarak 30 langkah di bangun pula 9 gubuk kayu beratap daun kawung tempat tinggal janda tua dan anak yatim. Janda tua dan anak yatim bukanlah manusia yang lemah yang minta dikasihani, bahkan sebaliknya mereka hidup mandiri dengan menganyam tikar danmencari kayu bakar bahkan dengan bercocok tanam memanfaatkan ladang yang ada.

Keberadaan Tajug Agung sangatlah penting sebagai penunjang beribadah dan kegiatan keagamaan lainnya, bahkan dari tempat inilah Syeikh Siti Jenar menyiarkan Islam. Keunikan dan cirri khas masyarakat pedukuhan Lemahabang antara lain dengan cara berpakaian, para wanita selalu mengenakan “kemben” (kain penutup dada) dan para pria selalu mengenakan “kain” (dester/jubah) juga dilengkapi golok di pinggang kiri sebagai lambing kehormatan kaum pria untuk melindungi kaum wanita, tentu itu semua bertolak belakang dengan adat istiadat dan budaya Kerajaan “Galuh Pakuan” saat itu.

Sepeninggal Syeikh Siti Jenar Pedukuhan Lemahabang menjadi sepi. Menjelang beberapa tahun kemudian munculah seorang pinageran bernama Pangeran Welang yang menghidupkan kembali segala aktivitas, baik dari perekonomian, kebudayaan dan keagamaan serta segala kehidupan di Pedukuhan Lemahabang. Pangeran Welang menetap di Blok Kringkel (Kroya), lalu beliau menuju ke saebelah barat Pedukuhan Lemahabang yang sekarang bernama Blok Tabet, dari Blok Tabet berpindah lagi ke sebelah selatan yang dinamakan Blok Makam panjang. Di Blok Makam Panjang beliau meninggalkan pusaka keris bernama Sikara Welang. Dari Blok Makam Panjang beliau pindah lagi ke sebelah selatn yaitu Blok Kamer, beliau menuju ke sebelah timur dan mengadakan ritual bertapa di Blok tersebut, sehingga daerah tersebut dinamakan Blok Tapa.

Perkembangan Pedukuhan Lemahabang sangatlah cepat dengan dibangunnya pasar sebagi tempat kegiatan perekonomian yang ramai dikunjungi saudagar dan pedagang dari luar daerah Lemahabang itu sendiri, dengan adanya hari pasaran setiap satu minggu sekali. Sebelah timur pasar digunakan kegiatan pandai besi, pembuatan alat dapur dan penyamakan kulit. Hal itu sangat mendukung, karena selain bangunan pokok (Tajug Agung) berdiri pula bangunan berderet melingkari Tajug Agung. Di samping itu, berdiri pula sanggar tempat pemujaan dan Vihara tempat beribadah umat Hindu dan Budha.

Nama Pedukuhan (desa) Lemahabang tentunya tidak terlepas dari perintis pedukuhan itu sendiri, yakni Syeikh Siti Jenar (Syeikh Lemahabang/datu Abdul Jalil).

Sudut pandang pemberian nama Pedukuhan (Desa) Lemahabang terbagi :
1.    Secara “lahiriah” pedukuhan Lemahabang diartikan ;
“Lemah” berarti “Tanah” dan “Abang” berarti “Merah”
Pedukuhan Lemahabang berarti Pedukuhan yang sebagian tanahnya merah atau Pedukuhan yang subur, sebab tanah merah adalah salah satu jenis tanah yang paling subur.
2.    Secara “Hakekat” pedukuhan Lemahabang diartikan :
    “Lemah” berarti “Tenang”, “Abang” berarti “Darah” (nafsu)
    Kata Lemahabang diartikan secara hakekat bahwa dimata Tuhan keberadaan manusia sederajat, yang kemuliaannya ditentuak oleh keimanan dan ketaqwaan masing-masing manusia itu sendiri, tentunya melalui proses hawa nafsu yang ada dalam diri manusia, baik dari hawa nafsu amarah, sawiyah sampai kepada hawa nafsu mutmainah.
    “Secara hakekat Lemahabang diartikan sebagai “hawa nafsu mutmainah” (ketenangan jiwa). Diharapkan warga Pedukuhan (Desa) Lemahabang identik dengan hawa nafsu mutmainah (ketenangan jiwa) dan tidak selalu mengumbar “Nafsu amarah”.

Perkembangan Pedukuhan Lemahabang pada abad 20 menjadi  salah satu daerah yang merupakan salah satu wilayah dari Kabupaten Cirebon yang sekarang dikenal sebagai Desa Lemahabang Kulon dan  Desa Lemahabang Wetan hasil dari pemekaran Desa Lemahabang, tepatnya terjadi pada tahun 1985.

Nama-nama Kepala Desa Lemahabang dan Desa Lemahabang Wetan yang diketahui diantaranya :

1.    nata Wijaya    : 1901 – 1917
2.    Marta    : 1917 – 1923
3.    Sarminah I    : 1923 – 1927
4.    Sema    : 1927 – 1934
5.    Muad    : 1934 – 1943
6.    Mustakia I    : 1943 – 1946
7.    Sarminah II     : 1946 – 1949
8.    Mustakia II     : 1949 – 1953
9.    Dastra    : 1953 – 1965
10.    Temu     : 1965 –
11.    Andar Munandar (alm)     : 1985 – 1994
12.    Abdullah H (Pjs)    : 2002 – 2003
13.    Edi Hartono (Pjs)    : 2003 – 2005
14.    Turino Junaedi    : 2005 – sekarang

Riwayat singkat Desa Lemahabang Kulon setelah adanya pemekaran wilayah dipimpin oleh (alm) Bapak Andar Munandar selaku Kepala Desa Lemahabang Kulon yang pertama dengan masa jabatan tahun 1985 sampai dengan tahun 1994, dan beliau melanjutkan masa kepemimpinan periode kedua sampai akhirnya beliau meninggaldunia sebelum masa jabatannya habis. Sepeninggal beliau, tumpuk kepemimpinan Desa Lemahabang Kulon dijabat oleh para Pejabat Sementara, yaitu :

1.    Bapak Abdullah H (Sekdes) periode tahun 2002 - 2003
2.    Bapak Edi Hartono (Kaur Pemerintahan Desa Lemahabang Kulon) periode tahun 2003 – 2005

Pada tanggal 26 Januari 2005 tampuk kepemimpinan Desa Lemahabang Kulon dijabat oleh Bapak Turino Junaedi selaku Kepala Desa yang dipilih langsung oleh masyarakat Lemahabang Kulon.

Sebuah pepatah mengatakan : “Barang siapa yang meninggalkan dan melupakan seni budaya dan para leluhurnya, maka terimalah kehancuran dari suatu daerah tersebut”.

Baca Selengkapnya »

SEJARAH ASAL USUL DESA KREYO

SEJARAH ASAL USUL DESA KREYO KABUPATEB CIREBON , Perlu diketahui bahwa Desa Kreyo berada di Kecamatan Klangenan, merupakan batas disebelah utara Kecamatan Klangenan. Jumlah penduduk 6.045 orang, laki-laki 3.023 orang perempuan 3.022 orang, luas tanah 384,57 Ha. Mata pencaharian petani, pedagang dan wiraswasta lainnya.

Pada jaman dahulu di Negara Syam adalah seorang putera yang bernama Syeh Sayid Sarifudin. Ketika menginjak dewasa Syek Sayid Sarifudin berkeinginan untuk mencari ilmu ke Jawa dan adu kesaktian. Syekh Sayid saruifudin Mohon pamit kepada kedua orang tuanya, namun orang tuanya tidaka menijinkan. Dengan keinginannya  yang kuat Syeh Sayid Sarifudin memaksakan diri tanpa pamit kepada orang tuanya, berangkatlah untuk memenuhi apa yang dicita-citakannya. Syeh Sayid Sarifudin datang di Jawa berlabuh di Mundu Pesisir. Di Mundu penghuninya hanya beberpa orang saja, bertemu aki-aki dan nini. Syeh Sayid Sarifudin memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuannya kepada kedua oran tua itu, yaitu inguin adu kesaktian dengan Syeh Syarif Hadayatullah di Cirebon. Jika dirinya dapat dikalahkan, maka bersedia untuk menjadi muridnya.

Kehidupan aki-aki dan nini-nini setiap harinya mencari buah gayam. Buah gayam dibentang (Cirebon) yaitu dibelah diambil isinya untuk dijual . Aki-aki tersebut sehari-harinya “mbentongi” gayam sehingga dijuluki Syeh Bentong.

Syeh Bentong memberi penjelasan kepada Syeh Sayid Sarifudin nanti diantar ke Cirebon untuk menemui Syeh Syeh Syarif Hidayatullah. Dalam berbincang-bincang, tibalah waktu sholat. Syeh Bentong tanpa permisi menghilang masuk ke kentongan, tenggang beberpa menit nini-nini masuk lagi ke kentongan. Syeh Sayid sarifudin kebingungan lubang kentongan yang sempit bisa dimasuki Syeh Bentong bersama istrinya. Syeh Bentong merminta kepada istrinya untuk menggapai tangan Syeh Sayid Sarifudin agar bisa masuk ke kentongan. Setelah Syeh Sayid Sarifudin masuk di kentongan kelihatan berubah ada mesjid besar dan megah, seperti mesjid yang ada di Negara Syam.

Syeh Bentong sholat berjamaah memohon kepada Syeh Sayid Sarifudin menjdai imam. Bingung juga Syeh Sayid Sarifudin dibuatnya, yang semula hanya bertiga, tahu-tahu kemudian sholat dimulai banyak sekali orang yang ikut ma’mun. Begitu selesai sholat orang-orang jadi tidak tahu arahnya bubar sekejap itu. Selesai melaksanakan sholat keluar lagi dari kentongan, kebetulan Syeh Bentong kedatangan tamu dari Indramyu yaitu Pangeran Suryadarma membawa oleh-oleh buah mangga yang besar sekali, kemudian Syeh Bentong meminta kepada iostrinya untuk menghidangkan buah mangga kepada Syeh Sayid Sarifudin. Syeh Sayid Sarifudin mengupas buah mangga itu namun aneh buah mangga tidak bisa dikupas. Syeh Bentong dengan senyum dikulum berkata kepada istrinya masa tamu harus mengupas mangga, lebih baik nini saja yang mengupasnya. Dengan cekatan mangga itu dikupas oleh nini dengan mudahnya. Dan Syeh Sayid Sarifudin menikmati buah mangga yang besar itu, tetapi dalam dirinya mengagumi akan kesaktian kedua orang tua itu.

Syekh Sayid Sarifudin mohon pamit kepada Syekh Bentong dan istrinya untuk meneruskan perjalanan menemui Syekh Sarif Hidayatullah. Ditunjukilah oleh Syekh Bentong bahwa jalannya kearah utara.

Diperjalanan Syekh Sayid Sarifudin bertemu dengan orang yang sedang mencari rumput. Syekh Sayid Sarifudin  berhenti sejenak dan bertanya kepada orang itu, kemanakah arah jalan untuk menemui Syekh Sarif Hidayatullah?. Akan tetapi orang yang ditanya itu balik bertanya, apakah maksud andika ingin menemui Syekh Sarif Hidayatullah?. Saya mau mencoba ilmunya, bahwa kalau rambut saya yang panjang ini bisa dipotong, saya merasa menyerah dan menjadi muridnya, jawab Syekh Sayid Sarifudin. Kalau tujuannya hanya itu biar dipotong oleh saya saja, tetapi asalkan suka dan rela. Syekh Sayid Sarifudin menyerahkan rambutnya yang panjang untuk dipotong. Hanya dengan jari tangannya saja rambut yang panjang itu bisa dipotong, sekarang tempat kejadian tersebut dinamakan Sukalila dan rambutnya disimpan di Karanggetas. Kedua tempat itu ada di wilayah Kota Cirebon.

Setelah tahu rambutnya dapat dipotong hanya dengan jari tangannya saja, hati Syekh Sayid Sarifudin berbicara betapa hebatnya ilmu orang itu, walaupun hanyalah seorang penyabit rumput saja. Syekh Sayid Sarifudin membalikkan badannya untuk mengucapkan rasa terima kasihnya, akan tetapi orang itu tidak ada di tempatnya, hilang tak tahu kemana perginya. Tiba-tiba terdengar suara tanpa ujud. Hai satria, bila ingin menemui Syekh Sarif Hidayatullah teruskan perjalananmu kea rah utara. Saya hanyalah seorang abdi dalem beliau.

Syekh Sayid Sarifudin setelah mendengarkan suara itu, menjadi semakin bingung. Sehingga perjalanannya tersesat di suatu pedukuhan.

Datang di pedukuhan itu, bertemulah dengan oprang tua yang sedang berkerumun dengan beberapa orang pengikutnya, yaitu Ki Dempul, Nyi Mas Plembang, Ki Bei, Ki Gundul dan Ki Sirait.
Kedatangan Syekh Sayid Sarifudin disambut dengan baik (reyo-reyo, Cirebon) atau ria-ria. Sejak itu maka pedukuhan tersebut dinamakan Kreyo dan sekarang adalah Desa Kreyo. Orang tua itu adalah sesepuh pedukuhan Kreyo disebutnya Ki Gede Kreyo.

Peninggalan pusaka yang masih ada diantaranya :

Soko Dengkol
Kemung / Bende
Keris
Tombak
Pedaringan
Kendang

-    Soko Dengkol sebagai alat penyumpahan, bagi yang bersalah, kalau memegang benda itu nanti tangannya menjadi dengkol (melengkung)
-    Kemung / Bende sebagai alat pemberitahuan bilamana desa ada keperluan.
-    Keris sebagai alat untuk perang membela Agama
-    Tombak sebagai penyerangan terhadap musuh/lawan
-    Pedaringan sebagai alat tempat penyimpanan (beras).
-    Kendang alat kesenian, karena Ki Gede Kreyo senangnya ramai-ramai/hiburan dan sebagai alat untuk mengundang pengikutnya.

Begitu pula sampai sekarang adat desa yang dari leluhur masih dilaksanakan seperti ngunjung sedekah bumi, mapag sri, tulak tanggul, mulang taambah (waktu padi mengandung.

Pusaka seperti kemung/bende, keris, Tombak, pedaringan, sekarang disimpan di kuwu selagi bertugas. Soka dengkol sekarang disimpan di desa dirawat dibungkus dengan kain.

Ki Gede Kreyo sampai sekarang makamnya banyak dikunjungi orang dan tiap adat desa diadakan kesenian wayang kulit, topeng, sandiwara daan lai-lain. Masyarakat Desa/Kelurahan Kreyo dikenal senangnya raamai-ramai, walaupun sedang usaha jauh kalau ada ramai-ramai dipastikan akan dating.

Daftar Nama Susunan Kuwu Kreyo yang diketahui adalah :

1.    Jare    : 1921 – 1936
2.    Majid    : 1936 – 1936 (40 hari)
3.    Sayamin    : 1936 – 1961
4.    Durahub    : 1961 – 1966
5.    Pamuji    : 1966 – 1976
6.    Arika    : 1976 – 1984
7.     Usman    : 1984 – 1990
9.    Sadiyu    : 1998 – 2003
10.    Abdul Fusroni    : 2003 – sekarang

Baca Selengkapnya »

SEJARAH ASAL USUL DESA KEJUDEN KABUPATEN CIREBON

SEJARAH ASAL USUL DESA KEJUDEN KABUPATEN CIREBON Ki Ageng Menit disebut pula Ki Ageng Lurah, adalah orang yang berjasa dalam mendirikan Pedukuhan Lurah, dalam mengemban tugas dari Sultan  Cirebon. Sekarang Pedukuhan Lurah menjadi Desa Lurah, yang wilayah kekuasaannya meliput Pedukuhan Keduanan, Pedukuhan Kejuden dan Pedukuhan Getasan.

Ki aGeng Lurah mempunyai putra lima orang, kesemuanya diberi tugas oleh ayahandanya untuk memimpin pedukuhan di wilayah kekuasaannya yaitu :

1.   Putra pertama ditugaskan sebagai pemimpin di Pedukuhan Kebarepan, kemudian dikenal dengan nama Ki Gede Kebarepan.
2.   Putra kedua diberi tugas sebagai pemimpin di Pedukuhan Keduanan, kemudian dikenal dengan nama Ki Gede Keduanan
3.   Putra ketiga diberi tugas sebagai pemimpin di Pedukuhan Kejuden, kemudian dikenal dengan nama Ki Gede Judipati atau Ki Gede Kejuden.
4.   Putra keempat, seorang perempuan diberi kekuasaan di Pedukuhan Getasan, dikenal dengan nama Nyi Gede Getasan.
5.   Putra kelima menempati Pedukuhan Lurah, disebutnya Lurah Gede.

Putra ketiga Ki Agung Lurah , yang diberi tugas sebagai pemimpin di Pedukuhan Kejuden, nama aslinya adalah Ki Kandim. Sosok Ki Kandim dalam memimpin pedukuhannya terkenal bijak, jujur dan tegas dalam menyelesaikan suatu persoalan, demi kelancaran serta keadilan.

Sikap kepemimpinan Ki Kandim yang terpuji itu didengar oleh Sultan Cirebon, sehingga pada suatu waktu Ki Kandim diundang oleh Sultan Cirebon. Setelah Ki Kandim menghadap Sultan Cirebon menghaturkan sembah baktinya, kemudian Sultan mengangkat Ki Kandim menjadi keluarga keraton daan seketika itu diberi tugas sebagai eksekutor bagi terpidana yang telah dijatuhi hukuman gantung dengan gelar Ki Judipati.

Untuk melaksanakan tugasnya, Ki Judipati diberi sarana tiang gantungan dan seutas tambang jerat yang terbuat dari sutra. Tambang tersebut tidak akan menjerat leher terpidana, jika kesalahannya tidak seberat hukuman yang telah dijatuhkan. Akan tetapi jika kesalahan terpidana layak untuk dijatuhi hukuman gantung, maka tambang tersebut akan menjerat leher terpidana dengan sendirinya.

Atas tugas dari Keraton Cirebon serta gelar yang baru yaitu Ki Judipati, maka Ki Kandim semakin terkenal dikalangan masyarakat dengan julukan Ki Judi. Sehingga pedukuhan yang dipimpinnnya terkenal dengan sebutan Pedukuhan Ki Judi. Yang kemudian sebutan Ki Judi menjadi Kejuden. Perubahan sebutan yang semacam itu lazim bagi orang Cirebon, antara lain tempat para putri disebut Keputren, wilayah tugas Mantri Polisi atau Ke-mantri-an disebut Kemantren.

Oleh sebab itulah maka Pedukuhan Ki Judipati disebut Pedukuhan Kejuden, yang kemudian hari berkembang menjadi Desa Kejuden dalam wilayah Kecamatan  Plumbon.

Daftar Nama-nama Kuwu Kejuden yang diketahui diantaranya :
1.   Rondje                                  : 1778 – 1802
2.   Sanggi                                   : 1802 – 1825
3.   Magut                                   : 1825 – 1849
4.   Mastur                                  : 1849 – 1871
5.   Sepuh                                    : 1871 – 1892
6.   Masdi                                    : 1892 – 1914
7.   Lami Djaaja Permuka            : 1914 – 1935
8.   Ardeni                                   : 1935 – 1949
9.   Sardima                                 : 1949 – 1952
10. Adiya                                    : 1952 – 1967
11. Kurini K                                : 1967 – 1995
12. Urip Sondjaja                        : 1995 – 1998
13. Sumarno (Pjs)                       : 1998 – 1999
14. Udi S                                    : 1999 – sekarang

Baca Selengkapnya »

DAFTAR NAMA LURAH SE KABUPATEN CIREBON TERBARU

DAFTAR NAMA LURAH LENGKAP SE KABUPATEN CIREBON TERBARU 2014/2015 . Perlu diketahui bahwa Kabupaten Cirebon ini memiliki 40 Kecamatan dan 420 Desa/Kelurahan untuk detail bisa lihat di Daftar Nama Kecamatan dan Desa /Kelurahan beserta Kode Pos Sekabupaten Cirebon yang diantaranya  12 dipimpin oleh Lurah dan sisanya dipimpin oleh Kepala Desa. Berikut dibawah ini adalah Nama Pejabat Lurah Sekabupaten Cirebon 2014/2015 Paling Terbaru ::


NAMA LURAH LENGKAP JABATAN UNIT KERJA
     
Drs. H. ABDUL AZIS, M.Si. Lurah Kelurahan Babakan
MAHARTO, S.Sos.,M.Si. Lurah Kelurahan Sendang
YAKYA Lurah Kelurahan Kaliwadas
DANI RIDWANA, S.Sos. Lurah Kelurahan Perbutulan
BUDI KUSWARA Lurah Kelurahan Sumber
MANSUR Lurah Kelurahan Gegunung
SAID BACHRUDIN, S.AP. Lurah Kelurahan Kemantren
SUBKHAN, S.Sos. Lurah Kelurahan Kenanga
SUKARDI, S.Sos. Lurah Kelurahan Pasalakan
RADI Lurah Kelurahan Pejambon
HARRIMAN NURBEKA, SAP. Lurah Kelurahan Tukmudal
JUDA, S.AP, M.Si. Lurah Kelurahan Watubelah

Informasi mengenai Nama Lurah di Kabupaten Cirebon semoga bisa bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

Baca Selengkapnya »

DAFTAR ALAMAT DINAS KANTOR OPD SE KABUPATEN CIREBON

DAFTAR ALAMAT DINAS KANTOR OPD SE KABUPATEN CIREBON pada sebelumnya kami telah memberikan Info seputar Daftar Lengkap Nama OPD Badan Dinas Kantor Se Kabupaten Cirebon dan pada kesempatan kali ini kami juga berbagi informasi dan sering ditanyakan oleh masyarakat mengenai Alamat Lengkap Kantor Dinas Badan OPD se Kab. Cirebon dan untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di bawah ini ::


Sekretariat Daerah Jalan Sunan Kalijaga No. 7 Sumber Cirebon 45611
Sekretariat DPRD jalan Sunan Bonang no.1 Komplek Perkantoran Pemkab Cirebon di Kota Sumbe
Sekretariat KPU Jalan R. Dewi Sartika No. 100
Sumber – Cirebon
Kode Pos 46511 
Dinas Kesehatan Jl. Sunan Muria No.6, Cirebon 45611 
Dinas Pendidikan Jl. Sunan Drajat No.10, Komp. Perkantoran Sumber-Cirebon (45611)
Dinas Kelautan dan Perikanan Jl. Sunan Muria No. 2, Cirebon
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jl. Sunan Kalijaga No 10 Sumber 45611 
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jl. Sunan Drajat No. 16 Sumber 45611
Dinas Bina Marga Jalan Sunan Kalijaga No. 7 Sumber Cirebon 45611
Dinas Perhubungan Jalan Dewi Sartika No. 118 Sumber, Kabupaten Cirebon 45611
Dinas Sosial Jl. Sunan Drajat No. 16 Sumber
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jalan Sunan Kalijaga No. 7 Sumber Cirebon 45611
Dinas Pendapatan Daerah (Samsat Sumber)  
Jl. Sunan Kalijaga No.7 Sumber 45611
Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo)  Jln. Sunan Drajat No. 13 Sumber
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Jalan Sunan Kalijaga No. 7 Sumber Cirebon 45611
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga  Jln. Sunan Drajat No. 09 Sumber 45611
Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan Jl. Pangeran Cakrabuana No 100 Talun
Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Cipta Karya) jalan Sunan Giri no.6 komplek Perkantoran Pemkab Sumber 45611
Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Jl. Sunan Drajat No. 13 (Kompleks Perkantoran) Sumber 45611 Kabupaten Cirebon
Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan Jalan Sunan Kalijaga No. 7 Sumber Cirebon 45611
Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD)  
Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Jl. Sunan Muria No.10 SUMBER KAB CIREBON 45611
Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat JL.SUNAN MURIA NO.14 SUMBER KAB CIREBON 45611
Inspektorat Jl Sunan Giri No 2, Sumber Kab Cirebon, Jawa barat 45611
Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Jalan Sunan Kalijaga No. 7 Sumber Cirebon 45611
Badan Lingkungan Hidup Daerah Jl. Sunan Drajat no.15 Komp. Perkantoran Pemda Sumber 45611
Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BKP5K) Jl. Sunan Ampel No. 2 Sumber 45611
Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Jalan Sunan Kalijaga No. 7 Sumber Cirebon 45611
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah  
Kantor Kearsipan dan Dokumen   Jalan Sunan Kalijaga No. 7 Sumber Cirebon 45611
Kantor Perpustakaan Daerah   Jalan Sunan Kalijaga No. 7 Sumber Cirebon 45611
RSUD Arjawinangun Jl. Raya Arjawingangun
RSUD Waled Jl. Raya Waled


Semoga info Alamat Lengkap Dinas Kantor Badan OPD Se Kabupaten Cirebon bisa bermanfaat bagi yang membutuhkannya dan silahkan baca juga Daftar Nama Camat Paling Terbaru se Kabupaten Cirebon

Baca Selengkapnya »

DAFTAR NAMA DINAS KANTOR OPD SE KABUPATEN CIREBON

DAFTAR NAMA DINAS KANTOR OPD SE KABUPATEN CIREBON berikut ini adalah Nama Kantor Dinas OPD yang ada di Kab. Cirebon diantaranya yaitu ::

Sekretariat Daerah
Sekretariat DPRD
Sekretariat KPU
Dinas Kesehatan
Dinas Pendidikan
Dinas Kelautan dan Perikanan
Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Dinas Bina Marga
Dinas Perhubungan
Dinas Sosial
Satuan Polisi Pamong Praja
Dinas Pendapatan Daerah
Dinas Komunikasi dan Informatika
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga
Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan
Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang
Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan
Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa
Badan Pelayanan Perizinan Terpadu
Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat
Inspektorat
Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah
Badan Lingkungan Hidup Daerah
Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan
Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Kantor Kearsipan dan Dokumen
Kantor Perpustakaan Daerah
RSUD Arjawinangun
RSUD Waled

Untuk Alamat Dinas Kantor OPD Se Kab. Cirebon akan segera menyusul dan silahkan baca juga Daftar Nama Kecamatan dan Kelurahan/Desa beserta Kode Pos Se Kabupaten Cirebon

Baca Selengkapnya »

DAFTAR NAMA CAMAT SE KABUPATEN CIREBON TERBARU

DAFTAR NAMA CAMAT SE KABUPATEN PALING TERBARU TERBARU berikut ini adalah Daftar Nama Camat Se Kabupaten Cirebon Terbaru Periode Tahun 2014/2015 :

NAMA CAMAT CAMAT


MUHAMAD IMAM SUBERANI, S.IP. Kecamatan Talun
Drs. H. ADE SUTARDI Kecamatan Jamblang
H. EDI KURNIADI, S.Sos, M.Si. Kecamatan Arjawinangun
Drs. IMAN SANTOSO, M.Si. Kecamatan Astanajapura
Drs. H. KUSDIYONO Kecamatan Babakan
Dra. Hj. SITI TSAMROTULFUAD Kecamatan Beber
HARDOMO, AP, MM. Kecamatan Depok
Drs. NAWITA, M.Si. Kecamatan Dukupuntang
EDI PRAYITNO, S.IP. Kecamatan Gempol
TOTO MISNOTO, S.Sos. Kecamatan Kaliwedi
Drs. MOH. YUSUF HERMAWAN Kecamatan Pabedilan
Drs. HAFIDZ  ISWAHYUDI Kecamatan Pabuaran
Drs. H. NANANG SUPRIYATNO Kecamatan Pangenan
Drs. UDIN SYAFRUDIN Kecamatan Panguragan
Drs. AZHAR RIYADI Kecamatan Plered
Drs. DEDI SUSILO, MM. Kecamatan Plumbon
YANA TRIYANA, S.Sos. Kecamatan Sedong
H. ABDUL AJID, S.Sos. Kecamatan Sumber
H. TEGUH SUPRIYADI, S.Sos. Kecamatan Tengah Tani
UBAEDILLAH, SH. Kecamatan Weru
Dra. INDRA FITRIANI, M.M. Kecamatan Karangsembung
Drs. R. UDIN KAENUDIN, M.Si. Kecamatan Gunung Jati
KUSAERI, S.Sos.,M.Si. Kecamatan Suranenggala
H. IMAN SUPRIADI, S.Sos. Kecamatan Greged
MOHAMAD FERY AFRUDIN, S.STP. Kecamatan Ciledug
H. HERMAN SISWANTO, S.Pd. M.Si. Kecamatan Ciwaringin
Drs. ASEP NURDIN Kecamatan Gebang
Drs. H. HERMAWAN, MM. Kecamatan Gegesik
H. IMAM USTADI, S.Si. Kecamatan Kapetakan
H. SUHARTO, ST.,M.Si. Kecamatan Karangwareng
Drs. AGUS MUSLICHUN Kecamatan Kedawung
Drs. H. SUTISMO Kecamatan Klangenan
H. YONO PURNOMO, S.Sos.,M.Si. Kecamatan Lemahabang
AUGUST PENTRISTIANTO, SSTP. Kecamatan Mundu
CARSONO, AP.,MM. Kecamatan Palimanan
DEDI EFENDI, S.Sos. Kecamatan Pasaleman
DINDIN WAHYUDIN RIDWAN, S.Sos. Kecamatan Susukan
Drs. H. ABDULATIP, MM. Kecamatan Waled
IWAN RIDWAN HARDIAWAN, S.Sos. Kecamatan Losari
H. MUKLAS, S.Sos. Kecamatan Susukanlebak


Semoga Informasi mengenai Nama Camat Se Kabupaten Cirtebon Terbaru 2015/2016 ini bisa dijadikan ilmu pengetahun tambahan

Baca Selengkapnya »